Jumat, 15 April 2011

Langkah Mudah Lenyapkan Selulit


Langkah Mudah Lenyapkan Selulit

Stretch marks dialami oleh sebagian besar wanita selama kehamilan. Stretch marks muncul menjelang masa-masa akhir kehamilan berupa guratan-guratan putih di perut, pantat, paha, pinggul dan payudara wanita, akibat peregangan kulit yang melampaui batas elastisitasnya.

Beberapa kebiasaan sehat berikut dapat mencegah dan mengurangi munculnya stretch marks.

1. Minum air putih minimal 8 gelas sehari membantu kulit menjaga kelenturannya dan mencegah timbulnya stretch marks.

2. Kurangi konsumsi kafein

3. Diet ringan dengan mengonsumsi makanan berbahan gandum, buah, sayuran yang mengandung banyak vitamin, protein dan mineral.

4. Pijat kulit dengan parutan buah kelapa yang sedang mudanya.

5. Hindari penurunan berat badan secara cepat setelah melahirkan.

6. Jaga kelembaban kulit dengan lotion atau cream.

7. Konsumsi makanan yang banyak mengandung vitamin A, E, dan C seperti wortel, susu dan telur.

8. Lakukan peregangan secukupnya setiap pagi, masukkan dalam porsi senam kehamilan.

Ada cara cepat menghilangkan stretch marks dengan tindakan operasi laser yang termasuk tindakan operasi ringan dan tidak berbahaya. Tetapi tidak semua guratan itu akan hilang, tergantung dari seberapa parah kulit meregang. Secara alami, guratan stretch marks akan memudar seiring usia. Jadi, pilihlah cara yang menurut Anda aman untuk lakukan perawatannya.
Metro TV Oleh Metro TV News | Metro TV – Rab, 13 Apr 2011 08.14 WIB

Gaya Cina Atau Baratkah Model Pengasuhan Anda?


Nah...Ikut Gaya Cina atau Baratkah Model Pengasuhan Anda?
(Amy Chua)

Anda pernah membaca buku Battle Hymn of the Tiger Mother? Karya Amy Chua ini merupakan best seller tengah yang menjadi perbincangan warga dunia. Dalam memoarnya, ibu dari Sophia (18 tahun) dan Louisa (14 tahun) itu menceritakan kesuksesan serta kesalahan yang dibuatnya dalam mengasuh anak dengan gaya tradisional Cina.
Orang tua Cina memang terkenal otoriter. Kedisiplinan dan kerja keras demi menggapai sukses mereka pertahankan di manapun berada. “Ini menjadi nilai yang diakui bersama oleh warga Cina,” jelas sosiolog Erna Karim.
Di satu sisi, Amy mendapat acungan jempol atas hasil pengasuhannya. Di usia 14 tahun, jemari si sulung, Sophia, lincah menari-nari di atas tuts piano di Carnegie Hall. Sedangkan, adiknya, Louisa memainkan biola tanpa sedikitpun nada sumbang. Seolah memenuhi tuntutan sang bunda, keduanya juga tampil sebagai jagoan akademik.
Kenyataan itu membuat banyak orang—terutama di Amerika—terusik. Standar kesuksesan anak Amy seolah menjadikan mereka sebagai orang tua yang gagal. Di samping itu, mereka menganggap profesor hukum dari Yale University kejam terhadap anak. Sebab, ibu yang menikah dengan pria Yahudi itu mengekang kedua putrinya dari kehidupan sosial. Mereka tak memiliki pengalaman menginap di rumah teman, pergi pesta, atau ikut pementasan drama.
Amy menuntut Sophia dan Louisa meraih nilai sempurna di semua mata pelajaran, kecuali olah raga dan drama. Masing-masing juga harus rutin berlatih alat musik yang dipilihkan sang bunda. Sebegitu kerasnya terhadap anak, Amy bahkan tidak mengizinkan Louisa istirahat sejenak untuk sekadar ke kamar kecil sampai gesekan biolanya merdu memainkan lagu Little White Donkey.
 Erna mengatakan orang Cina memiliki alasan kuat ketika memberlakukan gaya pengasuhan otoriter pada anaknya. Kedisiplinan dan kegigihan adalah sikap yang mereka perlukan untuk dapat bertahan hidup. “Anak-anak Cina juga terbiasa tidak tergantung pada orang lain dan selalu berusaha meningkatkan kompetensi diri.”
Anak-anak Cina juga sejak kecil telah diperkenalkan pada falsafah hidup. Mereka akan berusaha untuk tidak mempermalukan keluarga. “Dengan didikan seperti itu, generasi muda Cina memang banyak yang sukses namun emosinya datar,” komentar psikolog A Kasandra Putranto.
Sementara itu, gaya pengasuhan ala Amerika juga ada plus-minusnya. Orang Amerika lebih permisif dan sangat memperhatikan faktor psikologis anak. “Pola asuh seperti itu memang membuat anak dapat menjalani hidup sesuai pilihannya namun mengkondisikan mereka menjadi anak yang besar kepala dan seenaknya,” cetus Kasandra yang menjabat sebagai wakil ketua Himpunan Psikologi Indonesia wilayah DKI Jakarta.
Bagaimana dengan Indonesia? Kasandra menyimpulkan orang tua Indonesia berada di antara dua kutub gaya pengasuhan Cina dan Amerika. “Lantaran tiap pola asuh memiliki kelebihan dan kelemahan tersendiri, kita tidak bisa mengatakan mana yang terbaik.”
Sementara itu, Erna memperhatikan masyarakat Indonesia sangat plural. Ragam etnik dan agama mempengaruhi nilai-nilai yang dipergunakan orang tua dalam mendidik anaknya. “Lantas, pola pengasuhan di desa juga berbeda dengan di perkotaan.”
Masyarakat desa, lanjut Erna, lebih permisif. Orang tua cenderung membiarkan anaknya berkembang tanpa pendampingan yang sesuai dengan tuntutan zaman. “Perhatian mereka terkuras untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi.”
Lalu, di perkotaan, orang tua tampak lebih akomodatif. Kebanyakan dari mereka mencoba menyediakan sarana yang memenuhi nilai-nilai moderenisasi. “Fokus mereka pada prestasi akademik dan persaingan masa depan,” papar Erna.
Itu sebabnya, orang tua perkotaan sibuk memasukkan anaknya ke berbagai kursus. Terutama, komputer dan bahasa Inggris. “Lalu, kebutuhan otak kanan yang mencakup bidang kesenian juga diakomodasi,” jelas Erna.
http://l.yimg.com/bt/api/res/1.2/gz4Eg8Yz7N3VKeaqmGI2kg--/YXBwaWQ9eW5ld3M7dz0xOTA-/http:/static.republika.co.id/uploads/images/inline/angry-amy-chua.jpg
Bahan renungan
Untuk mengantarkan anaknya pada keberhasilan, Amy menentukan kegiatan anaknya. Ia berpendapat hingga berusia pra remaja, anak belum dapat secara objektif menilai. Otomatis, mereka harus mengikuti pilihan orang tua.
Terlepas dari kesuksesannya dalam membesarkan anak, Amy mengaku membuat sejumlah kesalahan sepanjang perjalanan. Ia gampang naik darah, kasar dalam perkataan, dan kurang memberikan keleluasaan memilih pada putrinya. Ia juga tak segan memberi hukuman.
Amy memang mengkritik pola asuh Barat yang cenderung lunak pada anak. Ketika anak kehilangan semangat belajar biola, orang tua Barat dengan cepat menawarkan alternatif alat musik lain yang lebih mudah dikuasai. Sebaliknya, Amy justru memberi dukungan agar putrinya makin giat berlatih supaya mahir.
Tidak semua anak Cina sukses diasuh dengan gaya otoriter. Beberapa anak klien keturunan Cina di biro Psychological Practice pimpinan Kasandra tertekan dengan pola asuh seperti itu. “Mereka memilih kabur dari rumah karena tidak tahan dengan kerasnya didikan orangtua.”
Akankah pencapaian Amy dijadikan barometer oleh sejumlah orang tua? Sosiolog Erna Karim mengatakan pengekor Amy adalah mereka yang tidak mampu mengonstruksi sendiri cara mendisiplinkan anak. “Orang yang terus mengikuti perkembangan zaman namun tak tahu cara pengasuhan lebih terpengaruh dengan buku-buku seperti Tiger Mom ini,” ungkap Erna.

Tantangan Masa Kini
Anak-anak Indonesia masa kini tumbuh dalam fasilitas yang nyaris serba ada. Dengan dukungan ekonomi keluarga yang lebih mapan, mereka mudah mengeksplorasi segala hal. “Dibandingkan dengan lima tahun lalu pun kondisinya sudah berbeda sekali,” ungkap guru Bimbingan Konseling SMP Labschool Kebayoran, Sinthya Bintarti.
Sementara itu, diperkenalkan oleh tayangan TV dan orang dewasa di lingkungan sekitarnya, anak-anak juga mengenal percintaan di usia yang sangat dini. Anak TK bahkan sudah dapat menyatakan kesukaannya pada lawan jenis. “Tentunya dengan presepsi sesuai usianya,” ujar Sinthya.
Dukungan fasilitas serta kondisi lingkungan seperti itu mendatangkan masalah tersendiri bagi anak. Kedekatan mereka dengan gadget dan akses internet membuat mereka teramat tergantung dengan teknologi. “Belum saatnya mereka terlalu mengandalkan gadget,” cetus Sinthya.
Pada usia sekolah, lanjut Sinthya, semestinya anak mencari informasi dari buku bacaan. Mereka harusnya membaca langsung dari sumber primer. Sedangkan, Wikipedia sebetulnya berisi keterangan dari sumber sekunder. ”Kebiasaan mengakses Wiki menurunkan minat baca mereka terhadap buku teks.”
Lantas, anak-anak sekarang juga berani memasuki dunia pergaulan di dunia maya. Padahal, mereka belum sepenuhnya bisa memilah. “Ada bahaya yang mungkin timbul dari pertemanan dengan orang asing di social media,” kata Sinthya.
Selain itu, anak juga terlampau sering terpapar dengan tontonan tidak sehat, seperti sinetron. Tayangan tersebut membuat mereka mudah berkata kasar. “Mereka menganggap berkata kasar merupakan bagian yang biasa dalam pergaulan,” ucap Sinthya.
Di lain sisi, ada komunikasi yang terputus antara orang tua dan anak. Sering kali, ekspektasi anak terhadap orang tuanya gagal tersampaikan secara utuh. “Anak belum selesai mengutarakan harapannya, ayah ibunya sudah keburu memotong,” kata Sinthya.
Ketika nilai ulangan jelek, misalnya, orang tua tidak mendengar sampai tuntas penyebab versi anak. Padahal, anak membutuhkan dukungan ayah bundanya. “Cobalah untuk menurunkan diri sedikit agar bisa merasakan masalah yang dialami anak,” saran Sinthya.

Republika Republika – Kam, 14 Apr 2011 18.13 WIB

Ibu Hamil Dilarang Makan Ikan Hiu


Ibu Hamil Dilarang Makan Ikan Hiu
Perbesar Foto
Usai melahirkan, sebagian ibu mengeluhkan perasaan depresi. Tetapi sebenarnya keadaan mental ini tidak akan terjadi, seandainya saat hamil mereka membiasakan diri mengonsumsi ikan.
“Konsumsi DHA selama kehamilan pada tingkat yang cukup yang diperoleh dari makanan, memiliki potensi untuk mengurangi gejala depresi paska melahirkan," kata peneliti dari Universitas Connecticut, Amerika Serikat, Dr. Michelle Price Judge, yang dikutip dari laman Daily Mail.
Manfaat lemak omega-3 yang dikandung ikan terhadap baby blues atau depresi pada ibu yang baru bersalin, telah diteliti secara khusus oleh para ilmuwan di Amerika Serikat.
Namun, jumlah ikan yang dikonsumsi juga mesti dibatasi. Karena bila kebanyakan, hasilnya juga tidak baik. Yakni,  dapat berakibat buruk bagi perkembangan bayi. Pada prinsipnya, ibu harus menyeimbangkan nutrisi dengan konsumsi makanan lain sebagai penyeimbang.
Dr. Michelle menambahkan beberapa wanita lebih memilih makanan suplemen untuk sebagai pengganti ikan. Namun, katanya, makan ikan tetap merupakan pilihan yang lebih bergizi.
Ikan yang dapat dikonsumsi ibu hamil juga tidak sembarangan. Lemak ikan, termasuk mackerel, sarden, salmon dan trout, tidak boleh dimakan lebih dari dua kali seminggu. Begitu juga dengan tuna steak, dibatasi hanya dua pekan sekali.
Dan yang harus diingat betul, para ibu hamil sama tidak boleh mengonsumsi ikan pedang, hiu, dan marlin.



 VIVAnews – Jum, 15 Apr 2011 09.10 WIB